Film sebagai Seni: Kreativitas, Teknologi dan Bisnis
Tanggal : 2019-07-12 11:14:50 Oleh : Naafi Nur Rohma, S.Sn.,M.Sn

 

Gambar di atas merupakan salah satu film bioskop yang sedang tren di bulan Juli 2019. Banyak bioskop-bioskop yang memutar film tersebut untuk memenuhi permintaan pasar. Hal itu menjadi salah satu bukti bahwa gambar bergerak tidak dapat lepas dari kehidupan kita. Banyak orang yang menikmati gambar bergerak di bioskop, di rumah, di kantor, di mobil, bus maupun di pesawat terbang. Mereka membawa film mereka di laptop, ipod mereka. Hanya dengan menekan tombol dan mesin, mereka dapat menyulap film untuk kesenangan mereka. Film menawarkan kepada penonton cara untuk melihat, merasakan melalui pengalaman. Pengalaman didorong oleh cerita dengan karakter yang menjadi penggerak cerita, tetapi di dalam film dapat lebih dikembangkan lagi, seperti ide, kualitas visual atau suara.

Bioskop dapat dianggap sebuah seni karena menawarkan kepada para pembuat film cara untuk merancang pengalaman mereka bagi pemirsa dan pengalaman itu bisa berharga atau bernilai uang. Tidak sedikit orang memperlakukan film sebagai bisnis. Hal ini dikarenakan pada umumnya, hiburan dijual kepada khalayak ramai. Tidak ada karya seni yang terbebas dari ikatan ekonomi. Beberapa film dibuat dengan harapan bahwa penonton atau konsumen akan membayar untuk menontonnya.

Salah satu contoh di Perancis, dengan murah hati memberi subsidi pada proyek film. Sekalipun para filmmaker memutuskan untuk membuat film digital sendiri, filmmaker akan menghadapi masalah tentang membayarnya dan para filmmaker berharap mendapat sedikit tambahan untuk semua waktu dan upaya mereka. Bordwell dan Thompson dalam bukunya tidak menganggap bahwa seni film naik di atas tuntutan komersial, tetapi tidak menganggap juga bahwa uang mengatur segalanya, tetapi bagaimana film melakukannya?

 

Sumber buku: Bordwell, David dan Kristin Thompson. 2008. Film Art: An Introduction. Penerbit: The McGraw-Hill Companies Inc. Edisi kedelapan.