Makna, Tanda, dan Kreativitas : Kostum The Chronicle of Borobudur
Tanggal : 2017-07-21 10:56:15 Oleh : bonnifacia

oleh : Bonifacia Bulan Arumingtyas, S.Ds.

 

Tulisan ini menyajikan pembahasan mengenai kostum The Chronicle of Borobudur dengan menggunakan teori semiotika Pierce, serta kreativitas seni dalam penciptaan simbol-simbol yang ada dalam kostum tersebut. Adapun pembahasan dilakukan dengan urutan yang diawali dengan deskripsi yang merupakan paparan sesuatu dengan kata-kata secara jelas dan terperinci [1]. Pada tahapan ini, penulis memaparkan komponen kostum tersebut yang tampak secara fisik. Dapat pula diartikan bahwa mendeskripsikan merupakan proses pengumpulan data.[2] Setelah proses deskripsi, dilakukan analisa terhadap kostum tersebut. Kemudian bagian terakhir dari pembahasan ini dituliskan dengan menjabarkan kaitan bentuk fisik dengan tanda-tanda yang juga dikaitkan dengan ground dan juga hal lain yang mendasarinya. Dengan melalui tahapan tersebut, penulis dapat membedah tanda serta kreativitas dan alih wahana The Chronicle of Borobudur dengan semiotika Pierce.

 

A.        The Chronicle of Borobudur dalam Deskripsi Bentuk Fisiknya

Sebagai sebuah tanda, The Chronicle of Borobudur merupakan kostum yang memuat makna tertentu. Seperti yang terlihat pada gambar 1 yang menampilkan Elvira Devinamira dan kostum The Chronicle of Borobudur, dapat dilihat bahwa kostum tersebut terdiri dari beberapa bagian. Pada bagian atas, dapat kita lihat topi dan sayap yang meruncing di bagian atas. Kemudian kostum tersebut terdiri juga dari pakaian dua bagian, bagian atas yang menutupi dada dan bagian bawah yang menutupi pinggul, dilengkapi dengan penutup tangan yang menutupi pergelangan hingga siku serta gelang lengan. Kemudian dari punggung, terdapat kain yang dapat dikibarkan melebar, dimana kain tersebut terdiri dari tiga warna yaitu abu- abu muda, abu-abu tua, dan hitam yang disusun berulang dengan ornamen di dalamnya. Bagian terbawah dari kostum ini adalah sepatu yang menutupi kaki Elvira hingga setengah betisnya. Sekalipun menutupi kakinya, masih tampak sebagian punggung kaki dan juga jari-jari kakinya.

Gambar 1: Evlira Devinamira dalam balutan kostum The Chronicle of Borobudur

https://www.instagram.com/mardhahusnie

 

 

Melihat lebih dalam pada bagian atas, sebuah ornamen yang menghiasi bagian atas kostum tersebut, selanjutnya disebut sayap atas kostum, dibuat menyerupai siluet stupa yang juga terdiri dari potongan stupa dengan ruang di bagian tengah untuk menonjolkan hiasan kepala atau topi dari kostum tersebut. Seperti yang dapat dilihat pada gambar 2, topi terdiri dari susunan tiga buah stupa yang juga berundak ke atas didukung pula dengan ornamen bulatan-bulatan berwarna hitam dan emas. Kemudian pada bagian pundak, terdapat ornamental lengkung yang menjuntai semacam tali berwana emas. Selain kostum, pada bagian atas, hal yang juga menonjol adalah rias pemakai kostumnya, salah satunya, mata yang diberi rias warna abu-abu kehitaman dan lipstik warna merah.

 

Gambar 2 : Detail bagian topi kostum The Chronicle of Borobudur

Sumber: https://www.facebook.com/MISS-UNIVERSE

 

Beranjak dari bagian atas kostum, pakaian yang melekat pada tubuh menjadi bagian dalam kostum ini. Pakaian tersebut terdiri dari dua bagian, penutup tubuh bagian atas dan bagian bawah. Bagian pertama untuk menutupi bagian atas tubuh, dihiasi dengan kalung besar yang menjuntai hingga dada. Kalung tersebut dihiasi bulatan-bulatan warna senada dengan yang ada di sayap bagian atas. Bulatan yang berkilau itu terdiri dari warna hitam, emas, dan silver atau perak. Selain kalung, dibagian bawah dada juga terdapat semacam sabuk berwarna abu-abu dengan hiasan warna emas. Kemudian bagian kedua, pakaian tersebut menggunakan semacam rok pendek dengan kain abu-abu yang menjuntai berlipit. Kain berlipit di bagian depan yang menutupi sepanjang kaki tersebut, pada bagian tepinya berornamen emas serupa dengan sabuk yang ada pada sabuk di bawah dada. Adapun kain menjuntai tersebut dihubungakan dengan sabuk pada bagian pinggang. Sabuk pinggang itu sendiri juga dihiasi ornamen bulatan seperti yang ada pada bagian kalung.

 

 

B.      Analisis Kostum The Chronicle of Borobudur

The Chronicle of Borobudur, atau dapat diartikan sebagai kronik atau babad atau juga sejarah dari Borobudur, dimana Borobudur yang dimaksud adalah Candi Borobudur, merupakan nama yang diberikan Fariz dan timnya pada kostum tersebut. Siluet stupa pada sayap atas kostum terdiri dari dua puluh delapan stupa kecil berongga belah ketupat tersebut disusun bertingkat dan berujung pada stupa yang digambarkan paling besar di bagian atas. Dari segi bentuknya, sayap atas kostum tersebut mencerminkan sebagaian dari bentuk Candi Borobudur. Adapun Candi Borobudur sendiri terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu : (1) tingkat pertama terdiri dari lima undakan dan berbentu segi delapan; (2) kemudian tingkat kedua terdiri dari tiga undakan yang masing-masing memiliki tiga puuh dua stupa berlubang belah ketupat, dua puluh empat stupa berlubang belah ketupat juga, dan enam belas stupa berlubang persegi; (3) sedangkan tingkat ketiga yang merupakan puncak dari Candi Borobudur terdiri dari satu stupa raksasa dengan garis tengah sepuluh meter. [3] Pada bagian sayap atas itulah, menunjukkan adanya penggambaran tingkat kedua dan ketiga dari Candi Borobudur pada kostum tersebut. Selain bentuk fisiknya, stupa kecil tersebut berwarna abu-abu secara keseluruhan, namun jika diperhatikan lebih dalam, stupa-stupa kecil tersebut terdiri dari tiga warna, yaitu abu-abu yang cenderung silver, kuning yang cenderung emas, dan merah kecoklatan yang cenderung warna tembaga. Pemilihan warna tersebut juga bukan tanpa maksud, ketiga warna tersebut adalah warna-warna yang bisa ditemui pada perhiasan logam. Emas, silver, dan tembaga menunjukkan warna-warna yang mencerminkan kemewahan yang dapat kita tangkap sebagai tanda kemewahan yang ditunjukkan lewat kostum tersebut.

Masih mengenai ornamen stupa, pada sayap bagian bawah juga terdapat gambaran siluet ornamen stupa pada setiap bagiannya. Adapun bagian itu sendiri terdiri dari sembilan bagian yang terbentuk dari setengah lingkaran besar. Stupa yang melingkar tersebut seakan menampilkan deretan stupa yang juga memiliki posisi melingkar jika kita pandang Candi Borobudur dari udara. Kemudian ornamen di sekitar stupa tersebut berbentuk sulur yang luwes berwarna emas dengan bulatan hitam di bagian ujungnya. Adapun bulatan yang ada dalam kostum tersebut seperti permata yang dapat memantulkan cahaya untuk menambah kesan kemewahan dalam kostum tersebut.  Berkaitan dengan ornamen stupa serta sulur pada bagian sayap bawah, perlu pula diketahui bahwa Candi Borobudur yang merupakan cetiya / caitya [4] bagi umat Buddha dapat terwujud dalam tiga macam. Adapun Bhikku Sri Pannyvaro Mahathera menyebutkan, (1) Saririka-dhatu Cetiya yang merupakan stupa berisi relik atau sisa jasmani dari Budhha, (2) Paribhogika Cetiya yang terdiri dari benda yang pernah digunakan sendiri oleh Buddha Gautama dimana pada komplek Candi Borobudur hanya ada satu hal yaitu pohon Bodhi yang diyakini pernah menjadi pohon tempat berteduh Buddha Gautama saat bertapa. (3) Uddesika Cetiya merupakan arca, gambar, simbol yang mengingatkan pada Buddha Gautama, dimana cetiya ini juga dapat pada Candi Borobudur.

 

Adapun pada kostum The Chronicle of Borobudur dapat ditemukan stupa, untaian tali berwarna emas dan juga sulur-sulur yang mencakup sekaligus ketiga macam Cetiya yang ada pada Candi Borrobudur. Stupa yang ditampilkan sebagai sayap atas memiliki tingkatan tertinggi dari Candi sekaligus ditempatkan pada bagian teratas kostum. Kemudian tali berwarna emas di sekitar bahu kostum, menunjukkan akar-akar pohon Bodhi yang menjuntai seperti emas. Sedangkan sulur-sulur pada sayap bawah menunjukkan ornamental relief yang merupakan dasar atau pondasi dari Candi Borobudur yang juga ditempatkan pada bagian bawah kostum.

Saat sayap bagian bawah dibentangkan, secara keseluruhan bentuk yang tampak adalah bagian bawah lebih lebar dengan ujung meruncing di bagian atas. Hal tersebut memang tampak saat melihat Candi Borobudur dari sudut pandang samping. Adapun berdasar latar belakang sejarahnya, Hariani Santiko mengungkapkan bahwa, “Candi Borobudur merupakan sebuah stupa yang berbentuk teras (terrace-stupa) bertingkat sepuluh, yang melambangkan sepuluh jalan Bodhisattwa yang harus ditempuh oleh seseorang yang akan mencapai tingkat Kebuddhaan” [5]. Tingkatan tersebut digambarkan juga oleh Fariz dalam kostum buatannya seperti yang dapat kita lihat pada gambar 3.

 

Gambar 3 : Elvira Devinamira saat mengenakan kostum The Chronicle of Borobudur dalam ajang Miss Universe 2014

Sumber: https://www.google.co.id/the-chronicle-of-borobudur

 

C.      Semiotika Pierce dan Alih Wahana Damono sebagai Pisau Bedah

Proses deskripsi dan juga analisa mengarahkan pada interpretasi kostum The Chronicle of Borobudur terhadap makna yang diusungnya. Seperti yang telah dipaparkan pada bagian landasan teori di Bab I, Pierce mengungkapkan adanya hubungan antar tiga unsur tanda. Unsur pertama yang berfungsi sebagai objek, telah dijelaskan melalui deskripsi fisik kostum The Chronicle of Borobudur. Kemudian unsur kedua yang merupakan ground, dijelaskan pada bagian analisa yang memaparkan pentingnya pengetahuan mengenai Candi Borobudur dalam proses analisa dan membantu proses interpretasi. Sedangkan Interpretan didapat dengan menggali makna tanda terhadap fisik dari kostum tersebut.

Kostum The Chronicle of Borobudur yang dikenakan Elvira Devinamira pada kontes Miss Universe 2014, dalam konsep alih wahana merupakan suatu kendaraan yang digunakan untuk membawa Candi Borobudur. Merupakan sesuatu yang mustahil untuk membawa Candi Borobudur ke Amerika Serikat tempat terselenggaranya kontes tersebut, sehingga melalui kostum buatan Fariz tersebut, seakan membawakan Candi Borobudur hadir pada malam itu. Seperti juga yang diungkap Pierce bahwa tanda berfungsi merepresentasikan sesuatu secara sebagian, begitu juga pada kostum ini. Candi Borobudur sesungguhnya tidak hanya terdiri dari kumpulan stupa, namun, didukung dengan nama kostum, dan juga Negara asalnya, maka dapat mudah dipahami bahwa stupa yang dihadirkan dalam kostum tersebut merupakan bagian dari Candi Borobudur.

Secara keseluruhan, kostum karya Fariz mengusung warna abu-abu sebagai dominasi warnanya. Jika ditilik dari sejarah tersebentuknya fashion, pada abad ke 17, di Inggris terbagi menjadi dua kelompok kaum, yaitu kaum Cavaliers dan kaum Puritan. Hal yang sangat bertentangan jika dilihat dari penggunaan warna pada pakaian mereka, kaum Cavaliers mengenakan pakaian yang berwarna-warni untuk mendukung gaya hidup yang bersenang-senang mereka, sedangkan kaum Puritan menggunakan pakaian warna gelap (biru, cokelat, abu-abu) untuk megungkapan keseriusan, kesederhanaan dan moralisme yang kaku [6]. Adapun warna abu-abu ini dapat dikaitkan dengan kesederhanaan para Buddha sebagai kelompok yang dikaitkan erat dengan keberadaan Candi Borobudur. Candi Borobudur yang menggunakan batu andesit sebagai bahan terbentuknya, masih menggunakan warna alami yaitu warna abu-abu juga untuk menunjukkan adanya kesederhanaan. Namun, dalam kostum The Chronicle of Borobudur, warna abu-abu yang menunjukkan kesederhanaan juga dipadukan dengan  warna-warna yang menunjukkan kemewahan, yaitu warna kuning keemasan dan warna merah tembaga. Hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa pada kostum tersebut, sekalipun mengusung kesederhanaan melalui warna abu-abu, namun sekaligus menampilkan bahwa Candi Borobudur juga merupakan sebuah “perhiasan” yang tidak ternilai harganya hingga dinobatkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.

 

Penutup

Kostum The Chronicle of Borobudur ini dibuat oleh Dynan Fariz dan timnya untuk difungsikan sebagai kostum nasional Indonesia dalam ajang internasional Miss Universe 2014 dan dikenakan oleh Elvira Devinamira. Kostum yang pada akhirnya memenangkan predikat kostum terbaik tersebut, mengusung tema babad atau sejarah Candi Borobudur yang menjadikan kostum sebagai kendaraan untuk membawa Candi Borobudur. Proses penciptaan kostum yang meliputi pemaknaan yang mendalam terhadap Candi Borobudur serta memindahkan Candi Borobudur ke dalam kostum, tentu tidak terlepas dari kreativitas. Proses-proses tersebut yang dapat disebut sebagai proses kreatif, yaitu proses yang melibatkan kreativitas.

Dalam pemaknaannya, dimulai dari bagian teratas kostum yang menunjukkan siluet stupa yang dapat ditemui juga di bagian teratas Candi Borobudur. Kemudian Pohon Bodhi pada komplek Candi Borobudur digambarkan pada tali-tali warna emas di bagian bahu. Sedangkan sulur-sulur di sayap bawah untuk menunjukkan ornamen relief yang juga terdapat pada Candi Borobudur di tingkat bawah. Warna abu-abu pada kostum menunjukkan kesederhanaan yang juga diusung Buddha dalam kehidupannya, namun paduan dengan warna emas dan juga tembaga pada kostum secara bersamaan menunjukkan berharganya Candi Borobudur. Pesan tersebut disampaikan melalui kostum sebagai alih wahana yang berfungsi menyampaikan pesan tertentu sekaligus berfungsi sebagai kendaraan, yaitu membawa Candi Borobudur jauh dari lokasi asalnya, Magelang - Indonesia, ke lokasi event Miss Universe 2014 di Amerika Serikat.

  Memaknai kostum The Chronicle of Borobudur memerlukan pengetahuan tentang Candi Borobudur itu sendiri. Mengenal bentuk dari Candi Borobudur, cukup untuk mengetahui bahwa kostum tersebut memang mengusung tema Borobudur. Namun, memahami filosofi Candi Borobudur diperlukan pula untuk mengetahui makna-makna mendalam dibalik kostum tersebut. Proses pembuatan oleh Fariz dan juga pemaknaan oleh penulis memerlukan pemikiran-pemikiran yang kreatif untuk sampai pada pemaknaan yang tidak sekedar sampai pada bentuk fisiknya saja. Melalui tulisan ini, kreativitas jelas berperan penting di dalam segala prosesnya.

 


[1] Santiko, Hariani. 2014. Candi Borobudur Ditemukan Kembali, dalam buku 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur terbitan Balai Konservasi Borobudur tahun 2014, Hlm 18

[2] Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna : Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Terj Setyarini, Evi dan Piantari, Lusi Lian. Yogyakarta : Jalasutra. Hlm 268.

 [3] Magetsari, Noerhadi. 2014. Candi Borobudur dan Rekonstruksi Pendiriannya, dalam buku 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur terbitan Balai Konservasi Borobudur tahun 2014, Hlm 12-13.

[4] Cetiya merupakan kata dalam bahasa Pali (dalam bahasa Sansekerta, Caitya) yang berati objek puja bagi umat Buddha, objek yang menjadi arah umat Buddha saat melakukan puja bakti baik bersama dalam kelompok maupun pribadi. Pengetahuan tentang Cetiya / Caitya ini ditulis oleh Bhikku Sri Panyvaro Mahathera dalam tulisannya yang berjudul Belajar dari Candi Borobudur, dalam buku 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur terbitan Balai Konservasi Borobudur tahun 2014, Hlm 6-7.

 

[5] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka

[6] Marianto, M Dwi. 2011. Menempa Quanta Mengurai Seni, Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta, 24.