Memahami Color Mode dan Color Space Pada Hasil Foto Digital
Tanggal : 2017-07-21 10:13:57 Oleh : bonnifacia

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

 

Pada dunia fotografi modern yang serba canggih dan serba berwarna warni, menuntut fotografer memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki atau dikuasai oleh orang kebanyakan. Mulai dari rumitnya masalah teknis pemotretan hingga pemahaman warna yang dihasilkan oleh kamera hingga hasil karya outputnya. Tapi pada era modern saat ini atau sering disebut era digital bisa dikatakan lebih mudah karena fotografi bisa dinikmati dan dilakukan oleh semua orang. Namun perlu di perhatikan semakin mudahnya penguasaan terhadap kamera semakin besar pula tuntutan untuk menciptakan sebuah seni fotografi yang berkualitas, unik, dan berbeda.

Warna adalah sebagian dasar dari fotografi, banyak faktor yang berpengaruh pada foto warna. Pada saat dinikmati, sebuah karya foto harus dilihat sebagai sebuah kesatuan, tapi sebetulnya di dalam karya tersebut banyak elemen yang dikomposisikan dan setiap elemen ini mempunyai peran sendiri-sendiri. Seorang fotografer yang baik harus dapat memahami karakteristik dari setiap elemen yang ada dan mengerti apa yang akan dilakukan terhadap hasil foto tersebut setelah proses pemotretan selesai. Apakah foto itu akan melalui tahap editing atau langsung di cetak. Jika harus melalui tahap editing, maka elemen apa saja dalam foto tersebut yang harus di proses untuk penyempurnaan. Pada akhirnya semua elemen itu harus dapat terlihat sebagai kesatuan yang membentuk sebuah karya fotografi yang bisa dinikmati.

Karena kita berhubungan dengan fotografi dan software editornya hampir setiap hari, maka kita juga pasti mengakrabi salah beberapa elemen penting ini di dalamnya. Untuk dapat memahami elemen-elemen tersebut maka akan dibahas beberapa elemen yang merupakan faktor yang akan mempengaruhi warna dalam sebuah karya fotografi. Faktor - faktor ini pasti selalu ada pada setiap foto warna digital, karena segala sesuatu yang mempunyai warna pasti mempunyai tingkat hue, saturation, dan lightness.

Hue adalah apa yang biasanya kita sebut sebagai ‘warna’ dalam bahasa sehari-hari. Untuk pelukis, istilah ‘hue’ berarti kombinasi dari warna-warna dasar; dengan kata lain, merah, hijau, biru atau kuning (RGB). Sementara fotografer biasanya membayangkan hue sebagai satu warna tertentu.

Saturation menunjukkan intensitas dari hue. Warna-warna dasar yang terang adalah warna dengan saturation tinggi, sementara warna-warna pastel saturation-nya rendah. Monochrome (hitam dan putih) seluruhnya tidak memiliki saturation karena tidak punya intensitas warna di dalamnya. Pada karya foto saturasi yang berlebihan akan menghasilkan gambar dengan warna yang tidak alami, sedangkan desaturasi secara total akan menghasilkan foto yang hanya memiliki daerah terang dan gelap (hitam putih).

Lightness yang juga sering disebut juga sebagai ‘value’ atau ‘tone’ berhubungan dengan tajam atau tidaknya sebuah warna, atau tingkat hitam atau putih pada skala warna. Sebuah warna dengan value yang rendah berarti lebih dekat dengan hitam, sementara yang memiliki value tinggi lebih dekat dengan putih.

Berikut diagram penggambaran detail tentang hue, saturation, dan lightness.

 

(Sumber gambar: http://www.drmoron.org )

Ketiga elemen di atas sebenarnya sudah sangat familiar bagi para editing foto. Namun untuk mengakomodasi elemen-elemen diatas, dunia fotografi digital yang didukung oleh teknologi editing foto digital ada sesuatu yang perlu dipahami oleh fotografer, yaitu tentang Color Mode dan Color Space (Color Profile). Pemahaman akan perbedaan kedua hal ini sebenarnya merupakan hal yang sangat mendasar dalam fotografi dengan foto editing.

 

Color Mode dan Color Space

Pemahaman tentang perbedaan Color Mode dan Color Space (Color Profile) dulunya memang tidak terlalu dibutuhkan, tapi seiring kebutuhan jika sering melakukan scan foto atau memotret sendiri, lalu mengedit nya untuk kemudian di cetak. Proses scan/memotret, edit dan cetak ini membutuhkan konsistensi pemilihan Color Mode dan Color Space agar pada hasil akhir nanti warna yang didapat sesuai dengan harapan. Pada artikel kali ini dicoba untuk menggali pemahaman tentang Color Mode dan Color Space berdasarkan software editing foto yang standard.

Color Mode

Color mode merupakan salah satu hal utama yang membedakan antara gambar digital dan gambar analog, maksudnya gambar digital dibentuk oleh cahaya maka gambar analog terbentuk dari tinta. Dasar pemahaman inilah yang menjadi landasan dari Color Mode. Cahaya yang yang merupakan warna additive membentuk gambar digital terdiri dari 3 warna yaitu Red, Green dan Blue (RGB), sedangkan tinta (warna subtractive) membentuk gambar analog terdiri dari 4 warna yaitu Cyan, Magenta, Yellow dan Black (CMYK). Tapi pada saat sebuah gambar CMYK ditampilkan dilayar monitor, sesungguhnya gambar tersebut ditampilkan dalam mode RGB, karena semua monitor menampilkan gambar dari cahaya.

Color Space (Color Profile)

Color Space adalah rentang jangkauan warna, sedangkan Color Profile adalah metode penyimpanan rentang warna tersebut secara digital. Dalam penerapannya keduanya dilabeli nama yang sama, yaitu: Adobe RGB Color Space. Ada banyak Color Space yang dikenal, namun hanya beberapa jenis Color Space yang mungkin paling sering kita gunakan, yaitu ProPhoto RGB, Adobe RGB, sRGB, dan lain-lain. Namun pada kamera digital sekarang, biasanya tersedia menu untuk memilih color space yang diinginkan fotografer, yaitu sRGB dan Adobe RGB, keduanya bisa digunakan, tapi ada perbedaan diantara keduanya  yang harus diperhatikan.

Berikut di bawah ini gambaran grafik color space yang menunjukkan luas warna yang bisa dicapai dari masing-masing color space.

Color Space sRGB

Color Space Adobe RGB

Color Space ProPhoto RGB

Perbandingan Color Space

(Sumber Gambar: http://fotografidesain.com )

 

Kemudian Color Space mana yang baik digunakan tergantung dari kebiasaan alur kerja fotografer. Berikutnya pertimbangan color space apa yang sesuai dengan gaya bekerja atau kebutuhan fotografer.

· Adobe RGB atau ProPhoto RGB apabila fotografer yang selalu menggunakan format RAW karena menginginkan citra digital dengan kualitas data yang maksimal dari kamera. Kemudian harus didukung monitor yang support dengan AdobeRGB atau ProPhotoRGB. Selain itu seting color profile di aplikasi post processing juga disesuaikan dengan color space pilihan. Tapi tentunya jika output foto hanya untuk ditampilkan di web/internet jangan lupa convert color space ke sRGB karena mayoritas web browser didunia ini hanya mampu menampilkan gambar dengan color space sRGB saja.

· sRGB. Apabila sebagian besar karya foto Anda selalu berakhir di web/internet. Atau apabila Anda tidak mau dipusingkan dengan proses konversi dan ingin spektrum warna yang konsisten dari awal sampai akhir. Tentu informasi warna yang Anda miliki tidak sebanyak Color Space yang lain, tapi faktanya adalah foto-foto bagus yang Anda lihat di Flickr, 500px, 1x dll sebagian masih menggunakan sRGB.

Color Space sRGB dan Adobe RGB tidak berpengaruh pada format RAW, karena memang tujuan memakai RAW merekam lebih banyak data dan informasi dari foto yang diambil, oleh karena itu file foto RAW cukup besar size-nya, dan tidak semua OS computer bisa langsung membukanya. Sebenarnya tujuan utama memakai file RAW adalah agar masih bisa edit banyak hal seperti White Balance, pasang filter ND dll.

 

Mencetak Foto

Perlu diketahui, color space Adobe RGB memang mampu menyimpan warna warni lebih banyak dari sRGB, tapi bukan berarti gambar lebih bagus dengan warna yang lebih banyak, tapi jika untuk dicetak menggunakan printer atau alat cetak dalam skala besar, gambar yang muncul diubah sepenuhnya ke color space lain, yaitu CMYK (Cyan, Magenta, Yellow and Black) yang bahkan lebih kecil dari sRGB. Jadi penting sekali memiliki sebanyak mungkin warna pada proses editing foto/gambar sebelum color space diubah untuk reproduksi CMYK (dicetak). Sehingga pada hasil cetakan warna akan terihat semaksimal mungkin.

Begitu juga dengan color space sRGB biasanya digunakan oleh gambar yang akan di serahkan ke lab foto untuk di cetak dalam berbagai ukuran, dan printer  yang digunakan oleh lab foto  sendiri adalah perangkat sRGB. Jika sama sekali tidak memahami akan banyak kekurangan dalam memproduksinya, bahkan kemungkinan mesin tidak dilengkapi fitur mengenal file RGB dan operator mesin akan mengolah gambar ke file sRGB secara manual sebelum ia mencetak. Internet  juga perangkat sRGB, foto yang di pasang pada web seharusnya sRGB  kalau tidak ingin gambarnya kurang baik atau warnanya sedikit tidak layak. Kecuali  menggunakan monitor pilihan yang dibuat khusus untuk color space sRGB. Intinya adalah tidak ada masalah dengan sRGB color space, jika tujuan mengambil foto hanya untuk sekedar memajangnya pada wall (monitor atau LCD) dan tidak untuk dicetak, maka gunakan color space sRGB.

 

Konsep Konversi Warna untuk Cetak

Pada mode warna (color mode), ada warna-warna yang ada di CMYK yang tidak bisa direpresentasi RGB dengan akurat, misalnya warna yellow 100%, cyan 100% dan magenta 100%. Sebaliknya ada cukup banyak warna-warna RGB yang tidak akan pernah ditampilkan dengan akurat misalnya ungu, hijau menyala, dll. CMYK adalah model warna tinta dan warna-warnanya tergantung pada pigment pada tinta & substrate yang dicetak. Sedangkan RGB adalah model warna cahaya yang dipakai untuk “input devices” seperti scanner maupun “output devices” seperti display monitor, dan warna-warnanya tergantung pada teknologi alat yang dipakai seperti; scanner, kamera digital, dan monitor.

Pada kebanyakan Printer yang berkualitas baik untuk mencetak foto, baik itu inkJet Printer, Color Laser, ataupun Fujicolor Lab atau Kodak System Lab, secara umum akan mencetak dengan Color profile sRGB. Sedangkan Printer seperti Large Format Printer, Color Laser Printer dan InkJet dengan 4 warna atau lebih dapat dirubah format file-nya dapat menggunakan Adobe RGB maupun sRGB, akan tetapi sangat disarankan untuk mencetak pada color profile sRGB.

Kemudian pada saat membuka file foto terkadang ada notifikasi: "Do You Want to Use Embedded Profile?" Apakah anda akan menggunakan profile yang melekat pada file tersebut ? Ya / Tidak. Notifikasi tersebut akan muncul jika pada Photoshop sudah disetting dengan Color Profile yang berbeda dengan file foto. Misal setting pada Photoshop color profilenya adalah Adobe RGB sedangkan file fotonya menggunakan sRGB, maka akan ditanya apakah menggunkan color profile yang sesuai dengan file foto ataukah file tersebut akan dirubah color profilenya sesuai dengan yang digunakan oleh setting pada Photoshop. Jika ingin mencetak foto pada kertas Photo atau InkJet Photo Paper, disarankan menyamakan color profile pada Photoshop dan color profile pada printer, dan yang terbaik adalah menggunakan sRGB.

Jika mencetak file berprofile Adobe RGB (yang memiliki rentang saturasi warna lebih luas) pada printer yang berprofile sRGB, maka hasil print out akan nampak seolah olah lebih gelap, dimana yang merah akan nampak lebih merah, yang biru akan nampak lebih biru (printer Color Laser). Jika dicetak pada printer inkJet 6 warna atau cetak di Photo Lab, warna justru akan memudar atau istilahnya adalah washed out karena printer jenis ini akan mencoba mengkoreksi kelebihan saturasi pada profile Adobe RGB.

Demikian semoga bermanfaat, salam kreatif!

(dari berbagai sumber)