Berkomunikasi Visual dengan Media Fotografi
Tanggal : 2017-07-21 09:39:33 Oleh : bonnifacia

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

 

Jaman dahulu foto begitu penting dan “mahal”, karena foto-foto sejarah adalah momen yang terekam dan bisa dijadikan buktiyang abadi. Fotografi pada jaman dahulu merupakan ilmu dan kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, namun seiring berkembangnya jaman dan teknologi dunia fotografi mulai dikenal oleh semua kalangan.Teknologi tersebut terus mengalami perkembangan, khususnya teknologi kamera untuk keperluan fotografi yang sudah beralih ke penggunaan kamera digital. Penggunaan kamera digital yang praktis tidak lagi membuat pemotret kehilangan banyak momen-momen yang tepat karena keterbatasan jumlah frame, bahkan kemampuan kamera saku digital dan smartphone sekalipun bisa mendapatkan hasil foto sebagus hasil fotografer profesional.

Di sisi lain, maraknya media internet dengan berbagai macam variasinya, ada satu hal yang fenomenal yaitu media sosial yang bisa mengakomodasi foto sebagai media berita, dokumentasi, bisnis, hingga bahan perbincangan interaksi online.Kehadiran media sosial lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan informasi, ini juga digunakan sebagai hiburan atau pengisi waktu luang. Menurut Baudrillard, fungsi utama objek-objek konsumer bukanlah pada kegunaan atau manfaatnya, melainkan lebih pada fungsi sebagai nilai-tanda atau nilai-simbol yang disebarluaskan melalui iklan-iklan gaya hidup berbagai media. Menurutnya, dalam masyarakatsistem pemaknaan tidak lagi diatur oleh faktor kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan, namun oleh seperangkat hasrat untuk mendapat kehormatan, prestise, status dan identitas melalui sebuah mekanisme penandaan. Dan kebenaran itu bisa dilihat pada fenomena media sosial.

Fenomena lain yang dapat dilihat adalah banyaknya yang memasang PP (Photo Profile) atau upload foto-foto saat bergaya seperti sedang di lokasi wisata atau restoran mahal, sedang membawahewan piaraan yang langka, sedang menyetir, sedang didepan mobil, sedang pose memegang kamera SLR yang harganya mahal, dan banyak pose lainnya yang menunjukkan prestise mereka. Fenomena itu menyebabkan pengguna lainnya ikut-ikutan supaya tidak dianggap kalah saingan dan agar dianggap gaul seperti yang lainnya. Pandangan ini semakin berkembang di era yang semakin modern dimana media sosial tidak lagi dijadikan sebagai alat komunikasi sebagai fungsi utama, namun hanya menjadi nilai simbol dimana siapapun ingin menunjukkan prestise yang tinggi yang mereka miliki melalui barang yang mereka gunakan lewat foto yang ditampilkan.

Penggunaan media sosial hanya sebagai simbol dari kemajuan dunia yang semakin modern, dan masyarakatnya pun tidak ingin ketinggalan jaman jika tidak mempunyai akun media sosial, seperti;Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, dll. Hal ini tidak akan terjadi jika masyarakat tidak mengenal teknologi sebelumnya dan fenomena ini semakin mendukung pernyataan Baudrillard yang menyatakan bahwaera kejayaan nilai-tanda dan nilai-simbol yang ditopang oleh meledaknya makna serta citra oleh perkembangan teknologi dan media massa.

 

Fotografi sebagai Media Komunikasi Visual

Sebagai seorang fotografer dituntut harus bisa dan mampu bekerja dengan teknik dan peralatan kerja yang dimilikinya secermat mungkin dan dibutuhkan ketekunan, ketelitian, usaha dan kerja keras bagi seorang entreupreneur untuk bisa menguasai teknik dan estetika fotografi. Pengalaman yang akan mengajarkannya bagaimana bekerja dengan kamera digital yang efektif, bagaimana menghadapi berbagai kondisi pemotretan, termasuk kondisi lingkungan dan cahaya yang kurang menguntungkan, hingga bagaimana berkomunikasi dengan orang lain dalam hal pekerjaannya.

Salah satu kelebihan fotografi adalah mampu merekam peristiwa yang aktual, dapat dipercaya, dan dapat membentuk sebuah citra di dalamnya. Sehingga fotografi dapat berfungsi sebagai alat komunikasi visual yang dapat digunakan sebagai bahan publisitas sebuah informasi atau membangun komunikasi yang bermanfaat.

Berkomunikasi dan berinteraksi antar manusia semakin dimudahkan dengan adanya teknologi canggih. Komunikasi yang digunakan juga beragam baik dengan menggunakan komunikasi interpersonal maupun dengan menggunakan komunikasi massa melalui media fotografi. Dalam proses komunikasi, diharapkan seseorang dapat mengetahui kondisi atau situasi, tempat, dan lain sebagainya agar pesan yang akan disampaikan dari foto tersebut dapat diterima dengan baik.

Aplikasi dalam berkomunikasi visual melalui foto ini bisa beragam; yaitu dari kegiatan bisnis, tukar-menukar informasi, meningkatkan branding produk, menawarkan jasa, hingga kegiatan komunikasi sehari-hari seperti chating, menunjukkan sesuatu ke orang lain, dan masih banyak hal lainnya yang bisa dilakukan menggunakan media foto.

 

Komunikasi Dalam Foto Jurnalistik

Fotografi merupakan media utama terutama media cetak untukberkomunikasi menyampaikan pesan atau berita secara visual, karena memang keunggulan fotografi adalah obyek akan terekam secara jelas dan nyata terhadap obyek berita. Namun dengan perkembangan teknologi fotografi telah mengalami kemajuan yang pesat, terutama didalam teknologi digital yang sebelumnya melewati masa yang panjang sekitar akhir abad 19 hingga awal abad 21 masih menggunakan media film. Dengan menggunakan film pemotretan obyek dalam fotografi akan merekam sesuai apa adanya tanpa rekayasa. Namun dengan masuknya era digitalisasi, fotografi telah memasuki ranah komputerisasi, dimana data foto akan terekam secara digital, terproses secara cepat, dan tepat, namun rawan akan keaslian dan kemurnian obyek foto tersebut.

Karena dengan kecanggihan teknologi pengolah gambar foto yang beredar sekarang memungkinkan foto yang ada adalah sudah hasil olahan sang fotografernya. Sedangkan foto yang merupakan informasi berita seharusnya adalah gambaran asli dari kejadian yang direkam pada suatu tempat dan waktu tertentu. Masalahnya, jurnalistik selalu berhubungan dengan berita yang tertulis atau proses penyampaian pesan kepada khalayak. Jurnalistik adalah tindakan diseminasi informasi, opini dan hiburan untuk publik yang sistematik dan dapat dipercaya kebenarannya melalui media komunikasi massa modern (Roland E. Wolesely dan Laurence R. Campbell, 1949, A.Muis : 24). Sehingga foto jurnalistik yang baik dan berhasil akan selalu dapat menjawab siapa, apa, kapan dan bagaimana suatu kejadian berlangsung dan foto yang merekam suatu berita tersebut, biasanya terpasang di media cetak seperti koran atau majalah.

Namun ada yang menjadi filter terhadap hasil pemotretan wartawan foto adalah dewan redaksi yang menentukan layak tidaknya sebuah foto ditayangkan. Disinilah berita-berita bisa muncul dengan foto yang kurang tepat dan termanipulasi. Kejujuran wartawan foto adalah yang paling menentukan, untuk tidak mencoba memanipulasi gambar yang berujung akan mengubah fakta. Pada dasarnya mengedit foto walau cuma sedikitpun akan mengubah fakta, misalnya sebuah moment foto bersama pada sebuah acara, tidak boleh dimanipulasi dengan menambahkan orang yang kebetulan tidak ikut foto, walaupun memang benar orang tersebut ada di acara itu. Untuk itu wartawan foto dan redaktur media sangat menentukan keaslian dari foto yang ada tersebut.

Foto yang baik adalah yang bisa membuat seseorang yang melihatnya merasa berada di dalam kejadian pada foto tersebut. Ada pepatah satu foto berati seribu kata, sehingga tanpa harus banyak bercerita lewat kata, foto sudah mewakili sebuah fakta tertentu. Oleh karena itu, dengan adanya Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, sudah selayaknya wartawan foto diberi kepercayaan kebebasan dalam mengeksplorasi foto berita tanpa meninggalkan etika.

 

Berkomunikasi dengan Karya Seni Foto

Sumber foto: http://www.parokimbk.or.id

 

Selain untuk media rekam, fotografi juga bisa sebagai media ekspresi seni. Seni baru bisa mempunyai makna atau dapat diresapkan jika pada dirinya terkandung kekuatan pesan yang komunikatif dan seni yang tidak komunikatif sama sekali tidak bisa dikatakan indah. Dari pernyataan ini bisa dikatakan bahwa seni adalah media penyampaian pesan dari seniman kepada orang lain dengan tujuan mempengaruhi pikirannya. Berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh Thomas Munro, fotografi dapat dimasukkan sebagai cabang seni rupa (visual Art), seni yang hanya bisa dirasakan melalui indera penglihatan manusia. Jadi seni fotografi bisa dikatakan sebagai kegiatan penyampaian pesan secara visual dari pengalama yang dimiliki seniman / fotografer kepada orang lain dengan tujuan orang lain mengikuti jalan pikirannya. Supaya tercapai proses penyampaian pesan ini maka harus melalui beberapa persyaratan komunikasi yang baik, yaitu konsep AIDA (Attention–Interest-Desire-Action) atau Perhatian – Ketertarikan – Keinginan – Tindakan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi lewat sebuah foto seni.Pertama adalah imajinasi fotografer, Foto sebagai media ekspresi seni membutuhkan imajinasi dari fotografer. Pada penyajian akhir, dengan melihat sebuah foto seni tentunya penikmat fotojuga akan berimajinasi tentang bagaimana suasana dalam foto tersebut, misalnya tentang keadaan, perasaan yang muncul dari orang, dan situasi dalam foto tersebut. Kemudian foto yang menyampaikan pesan dengan baik adalah foto yang dapat membuat orang yang menikmatinya bisa ikut berimajinasi. Persepsi tentang foto seni bisa berbeda, sehingga perlulah presentasi atau paparan konsep seni dari fotografer pada penyajian foto, sehingga maksud dan arti foto tersebut bisa dikomunikasikan dengan audiens.

Kedua adalah pengalaman dan perasaanfotografer yang sering mempengaruhi baik buruknya pesan dari sebuah foto, karena kebanyakan fotografer yang memiliki perasaan dan pengalaman tertentu dalam membuat karya foto yang memiliki sebuah pesan tertentu. Ketiga adalah bagaimana memahami karya foto tersebut. Untuk berkomunikasi lewat foto, diperlukan pemahaman yang kuat, karena pemahaman satu orang dengan orang lain ada yang berbeda. Foto yang dibuat lebih baik mudah untuk dipahami oleh semua kalangan, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

Kemudian yang terakhir dan yang terpenting adalah sebuah ide/gagasan. Ide merupakan inti pokok dari sebuah pesan yang terkandung dalam foto. Untuk berkomunikasi lewat foto, pertama-tama menentukan ide tentang pesan apa yang ingin disampaikan. Tentunya ide yang bagus akan mempengaruhi juga pesan dari sebuah foto. Sebaliknya, ide yang kurang baik dalam pesan sebuah foto akan sulit dimengerti oleh orang yang melihat foto.

 

Fotografi sebagai Budaya Visual

Penyajian visual berperan besar pada pembentukan opini publik, dan di situ fotografer menjadi salah satu penanggung jawab utamanya. Oleh karena itu para fotografer jurnalistik maupun fotografer seni pernah meyakini bahwa fotografi dapat berperan dan bertanggung jawab dalam pembentukan masyarakat yang ideal. Menurut David Ogilvy (pengamat dunia iklan), sejak awal tahun 1940-an menyatakan bahwa untuk memengaruhi masyarakat, lebih baik menggunakan satu foto daripada seribu sketsa gambar tangan.

Foto memiliki daya pengaruh yang begitu besar dalam pembentukan opini masyarakat sehingga siapapun yang menyandang kamera dan menghadirkannya tengah memengaruhi pandangan masyarakat pemirsanya. Karena itu pemirsa pun harus sadar bahwa setiap sajian punya tujuan dan acuan tertentu yang bisa saja telah mengalami pergeseran jauh dari maksud fotografer atau pencipta fotonya. Diperlukan suatu wawasan untuk mengerti, suatu sikap yang kritis melihat dan memahami bahwa foto yang hadir bukanlah satu wujud yang berdiri utuh sendiri. Ia merupakan bangun realitas baru dari kerja seorang fotografer yang memang merekam sesuatu yang ada. Realistis namun dalam batasannya.

(dari berbagai sumber)

Salam kreatif!