Kualitas Foto Untuk Dicetak
Tanggal : 2017-07-12 10:34:30 Oleh : bonnifacia

oleh : Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si

 

Fotografi dalam hal ini sebagai salah satu media rekam dan media artistik sudah sedemikian mendalam pada benak masyarakat luas. Salah satunya pada dunia desain grafis atau desain komunikasi visual (DKV) masih menjadi salah satu faktor penting dalam kesuksesan proses desain. Konsep desain grafis merupakan bagian dari identitas bisnis, misalnya aplikasi foto pada sebuah brosur atau poster yang baik akan dapat menarik calon pelanggan untuk mengambil dan membacanya sekaligus mampu menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.

Karya Fotografi pada Desain Grafis dulunya lebih identik dengan karya dua dimensi yang dicetak pada berbagai macam media.Untuk mendapatkan beberapa perspektif mengenai karya foto dan kaitannya dalam proses cetak agar menghasilkan cetakan sesuai yang diharapkan, secara umum ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pemotretan maupun editing sebelum mencetaknya, sepertikamera, resolusi dan pemilihan jenis kertas, dan sebagainya.

Berikut ini beberapa tips bagaimana menjaga kualitas foto untuk dicetak, yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan desain grafis.

 

1. Memilih Kamera

Hal paling mendasar sebelum membuat foto tentunya menentukan kamera yang digunakan. Kamera digital terkini sudah sangat beragam dan canggih, dari model kamera SLR, Mirrorless, Pocket, hingga Kamera Smartphone. Dan saat ini semua jenis kamera tersebut selalu dikembangkan dan hampir semua memenuhi standar umum kamera profesional. Sering terjadi hasil foto dari smartphone high-end terkadang lebih baik dibandingkan hasil dari kamera SLR dengan spesifikasi kurang baik. Hampir semua kamera terkini sudah memiliki sensor rekam yang besar, rata-rata diatas 10 megapixel.

Berikut tabel contoh hubungan ukuran megapixel kamera dengan dengan ukuran foto

Sumber: www.myteks.wordpress.com

Tentang megapixel, perlu diketahui bahwa banyak fotografer menyarankan memakai kamera bersensor besar adalah untuk kepentingan kualitas cetak-mencetak, bukan kepentingan kualitas secara artistik seperti warna, ketajaman gambar, dsb. Kamera dengan sensor megapixel semakin besar, semakin bisa membuat ukuran foto lebih besar untuk dicetak.

Untuk kepentingan kualitas foto pada masalah menangkap warna dan ketajaman gambar, lensa kamera lebih punya peranan untuk itu. Lensa kamera ibarat mata, kualitas lensa sangat mempengaruhi kualitas foto. Makanya sering terjadi memakai body kamera high-end dengan megapixel besar, namun menggunakan lensa yang sudah agak usang, maka hasil foto akan usang. Berbeda jika kamera dengan sensor biasa, tapi menggunakan lensa yang prima, hasil foto akan bagus.

Tidak kalah penting adalah pemilihan ukuran sensor body kamera, karena begitu banyak ukuran dengan spesifikasi yang berbeda pula. Ada yang ukuran sensor kecil megapixel besar, dan ukuran sensor besar tapi megapixel kecil.

 

Berikut contoh ukuran sensor

Sumber: www.seputarfotografi.com

Semakin besar ukuran sensor yang digunakan, maka hasil gambar dari kamera tersebut akan semakin berkualitas juga, karena jumlah pixel yang lebih besar akan menghasilkan noise yang lebih sedikit. Oleh karena itu, gambar yang memiliki ukuran pixel lebih besar akan terlihat jauh lebih jelas dan terang.

 

2. Menentukan Ukuran Foto yang Efektif

Kesalahan umum dalam menggunakan fotountuk kepentingan desain adalah ukuran setup yang salah. Seringkali, setelah puas dengan desain yang telah dibuat, mereka harus kecewa karena pihak percetakan mengembalikan desain mereka dengan alasan bahwa setup ukuran yang mereka buat tidak sesuai dengan ukuran output.

Misalnya, aplikasi foto untuk desain brosur berukuran A4 (21 x 29,7 cm), namun desain tersebut dicetak pada kertas berukuran Letter (21,6 x 27,9 cm) atau yang lebih besar. Jika kesalahan setup ukuran ini tetap dipaksakan, maka pihak percetakan harus meregangkan atau mengecilkan tata letak brosur agar sesuai dengan kertas. Hal ini tentu saja akan berimbas pada kualitas resolusi cetak dan proporsi tata letak brosur.

Dalam pengambilan foto biasakan memakai ukuran terbesar pada kamera, namun ukuran foto yang diaplikasikan pada desain hendaknya disesuaikan kebutuhan cetak. Ukuran foto diedit tidak terlalu besar sehingga sia-sia dan memperberat dalam proses desain, juga tidak terlalu kecil yang mengakibatkan hal yang lebih fatal yaitu gambar pecah.

Hal lain adalah image resolution,atau resolusi gambar dapat diartikan sebagai kerapatan pixel dalam sebuah gambar, yaitu kepadatan pixel (pixel density) yang mana pixel ini menyusun suatu image yang bisa berupa foto atau elemen grafis. Semakin padat pixel yang menyusun suatu image maka semakin detil dan tajam image tersebut. Image resolution dihitung dengan PPI (pixel per inch) walaupun banyak orang menyebut dengan istilah DPI (dot per inch).

Tidak semua media cetak image resolution yang digunakan 300ppi. Untuk media cetak yang akan dilihat dengan jarak pandang relatif jauh bisa digunakan image resolution kurang dari 100ppi, sebagai contoh spanduk dan papan iklan. Untuk spanduk, dari jarak minimal 3 meter kita sudah bisa melihat dengan jelas. Untuk papan iklan lebih variatif, ada papan iklan dengan ukuran besar sehingga jarak pandang 100 meter sudah terlihat jelas, ada papan iklan iklan dengan ukuran sedang dengan jarak pandang 50 meter sudah terlihat jelas. Semakin besar suatu media cetak semakin kecil kebutuhan akan detil dan ketajamannya sehingga semakin kecil pula image resolution yang digunakan.

Resolusi Untuk Banner, X-Banner, Baliho dll :

Ukuran sekitar 10 meter = 35dpi

Ukuran sekitar 5 meter = 100 dpi

Ukuran sekitar 2 meter = 150 dpi

Ukuran sekitar 1 meter = 200 dpi

Ketika mendesain brosur di komputer, penggunaan resolusi 72 dpi atau 300 dpi memang tidak terlihat perbedaanya. Namun, saat desain tersebut dikirim ke percetakan, maka hasilnya akan sangat jauh berbeda.

 

3. Sofware Editing Foto

Penggunaan software editing foto tidak bisa dihindari untuk memaksimalkan tampilan foto. Untuk editing dasar adalah aplikasi bawaan dari kamera untuk editing format mentah (RAW) untuk mengoptimalkan White Balance. Namun setelah melewati editing dasar tersebut, seringkali fotografer atau desainer menggunakan software editing untuk desain seperti Photoshop.Memang Adobe Photoshop sering direkomendasi untuk editing foto karena mempunyai fitur-fitur yang standar baik secara kualitas digital maupun kualitas hasil cetak.

Namun banyak sofware lain yang beredar untuk editing foto, banyak yang menawarkan effect-effect spesial, namun hindarilah software-software yang instan atau aplikasi-aplikasi untuk sosial media yang mengutamakan efisiensi dan kecepatan, karena dipastikan kualitas foto (khususnya ukuran resolusi) akan “turun” disesuaikan media yang dipakai.

 

4. Mode Color

Untuk standar cetak, tentunya mode color pada foto selalu menggunakan mode CMYK, karena semua konsep printing menggunakan tinta dasar CMYK. Bahkan jika diperlukan tinta tambahan juga menggunakan mode CMYK dengan ditambah spot color sesuai keinginan. Tapi khusus pada teknologi cetak foto studio/lab yang menggunakan teknologi Color Sensitive Coating, banyak yang menyarankan foto tetap menggunakan mode color RGB karena prinsip cetaknya dengan menyinari media cetak. RGB adalah mode untuk warna cahaya, sehingga diharapkan sinar yang ditembakkan ke media kualitasnya seperti tampak pada layar monitor (RGB).

Ada juga printer-printer dengan komposisi tinta yang kompleks, misalnya CMYK plus light magenta dan light cyan atau jenis tinta yang lain, banyak yang menyarankan mode color tetap di RGB karena gamut warna RGB lebih luas dibanding CMYK, diharapkan warna lebih cerah. Namun tentunya lebih baik dikonsultasikan lebih dulu dengan operator mesin yang lebih tahu kapasitas dan kualitas cetak mesin tersebut.

 

5. Pemilihan Media Cetak

Pemilihan media cetak atau kertas yang tepat sangat mempengaruhi hasil cetakan dari foto atau desain aplikasinya. Jika ingin mencetak pada kertas tipis, sebaiknya menghindari penggunaan warna-warna blok pada foto atau desainnya. Begitu pula jika ingin mencetak menggunakan kertas dengan permukaan halus, licin, kasar, atau buram, maka foto/desain harus menyesuaikan dengan jenis kertas yang akan dipergunakan.

Beberapa jenis kertas yang biasa digunakan untuk mencetak foto adalah Kertas Foto.

Kertas foto yang dimaksud adalah kertas untuk mencetak foto di studio/lab foto dengan teknologi Color Sensitive Coating, yang mana kertas disinari cahaya sehingga lapisannya bereaksi kemudian diproses hingga gambar muncul.

Kemudian jika foto sudah diaplikasikan pada desain ada beberapa media umum yang sering dipakai, yaitu Art Paper dan Art Carton. Mengetahui jenis-jenis kertas yang digunakan dalam dunia percetakan, akan sangat menguntungkan untuk memastikan hasil cetakan sesuai dengan desain yang dibuat.

Ada beberapa jenis kertas cetak foto antara lain :

  1. Premium Glossy Photo Paper. Kertas cetak foto ini mampu memberikan hasil cetak foto dengan efek lebih mengkilau. Jenis kerta cetak foto ini sangat cocok untuk jenis foto yang memiliki resolusi tinggi.
  2. Double Side Paper. Dua bagian dari kertas ini depan maupun belakang dapat digunakan. Hasil cetafoto dengan kertas ini cenderung tidak mengkilau dan doff, namun masih tetap akan terlihat bagus.
  3. Laster Photo Paper. Kertas ada efek kulit jeruk dan juga doff,dan kelebihan kertas foto ini adalah kualitas kertas cetak foto yang dapat bertahan lama dan tidak mudah pudar dari segi warna.
  4. Glossy Photo Paper. Kertas foto ini digunakan untuk cetak foto standard dan banyak digunakan oleh studi cetak foto kecil. Kualitas kerta cetak foto ini warna nya yang putih dan mengkilap.
  5. Inkjet Paper. Kualitas jenis kertas foto ini lebih bagus dari pada HVS  biasa, karena ini terletak pada kualitas tinta yang prima dan bagus, selain itu lebih cepat kering.
  6. Sublim Paper. Kertas cetak foto ini banyak digunakan untuk media untuk memindahkan foto atau gambar ke kaos.

 

6. Pemilihan Teknologi Cetak

Selain pemilihan kertas yang tepat, mengetahui teknologi cetak yang akan digunakan pada foto/desain juga sangat membantu dalam kaitannya menjaga kualitas foto saat dicetak. Beberapa teknologi cetak yang biasa digunakan pada foto/desain adalah;Cetak Color Sensitive Coating, Cetak Konvensional (Offset, Gravure, Flexo), dan Cetak Digital Printing (Digital Offset, Inkjet, Electrophotography, dsb.)Dari bermacam-macam teknologi tersebut, semua mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri.

 

Dengan pengethuan yang banyak tentang cetak, fotografer atau desainer lebih bisa mengontrol foto/desainnya sehingga bisa mencapai hasil maksimal. Tentunya butuh jam terbang yang tinggi untuk mengetahui satu persatu tentang macam-macam media dan teknologi cetak, tapi dengan tips-tips di atas diharapkan fotografer/desainer lebih cepat mengetahui dan semangat untuk mencobanya.

 

Salam Kreatif !